ESAI: MENDAYAGUNAKAN MODAL SOSIAL UNTUK REVITALISASI PERPUSTAKAAN INDONESIA

Sumber gambar: pixabay


KARYA: DIMAS QATRUNNADA, SISWA SMA HARAPAN MANDIRI MEDAN


Berbicara tentang perpustakaan, yang muncul di benak sebagian orang mungkin adalah sosok sebuah gedung yang kusam dan nyaris tidak terawat dengan tumpukan buku-buku usang yang sebagian halamannya telah disantap rayap atau berwarna kecoklatan akibat dimakan usia. Sebuah tempat yang kurang nyaman tentunya, ditambah lagi dengan para pustakawan yang menggeluti pekerjaannya bukan karena kecintaan pada buku dan pengetahuan, melainkan hanya sebagai suratan keadaan yang diterima dengan setengah hati. Maka, tidaklah mengherankan bila sangat sulit menumbuhkan minat baca dan literasi di negeri yang hingga kini terus dibelit sejumlah masalah dan fakta ketertinggalan pada berbagai aspek kehidupan. Padahal, membaca dapat memperkaya wawasan untuk mencari solusi dari masalah sekaligus menciptakan sumber daya manusia unggul demi meningkatkan daya saing.

Kalau pun ada perpustakaan yang memiliki koleksi buku lengkap serta menerapkan teknologi terbaru dalam otomasi perpustakaan, digital library, akses online ke jurnal-jurnal internasional, dan mengembangkan jaringan kerja sama maupun resource sharing antar perpustakaan, kebanyakan berlokasi di perguruan tinggi ternama atau lembaga penelitian terkemuka sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara leluasa oleh seluruh lapisan masyarakat. Sementara, yang tersedia bagi masyarakat umumnya hanyalah perpustakaan seadanya yang harus dihidupi dengan anggaran sangat terbatas. Jangankan untuk menambah koleksi buku dan meningkatkan kualitas layanan, demi sekedar mencukupi biaya operasional pun, para pengelolanya kerap harus melakukan berbagai pengorbanan. 


Mengutip Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2015), dari sekitar 254.432 sekolah (SD, SMP, SMA/SMK) yang ada di Indonesia, hanya 118.599 sekolah yang memiliki perpustakaan dengan kondisi relatif baik. Ini masih diperburuk lagi dengan kurang memadainya dana yang dialokasikan pemerintah untuk anggaran perpustakaan nasional. Akibatnya, perpustakaan nasional tidak mampu memberikan layanan terbaik kepada masyarakat di berbagai daerah. Masyarakat pun akhirnya lebih memilih mengakses informasi melalui pemanfaatan berbagai sarana lain, sehingga lambat laun semakin menjauhi dan menghindari perpustakaan.


Lebih ironis lagi, keberadaan perpustakaan acapkali dianggap sebagai pelengkap belaka dan bukan bagian esensial dari regenerasi pengetahuan. Penulis, misalnya, pernah menyaksikan sendiri betapa sebuah perpustakaan baru dianggap penting oleh sebuah lembaga pendidikan ketika akan menghadapi proses akreditasi. Perpustakaan yang sehari-harinya lebih mirip gudang buku usang, dalam sekejap disulap dengan memajang buku-buku contoh dari penerbit dan buku milik para pengajar sebagai koleksinya. 


Sedangkan daftar kunjungan harian direkayasa sedemikian rupa dengan memberikan tugas sebanyak-banyaknya yang harus dikerjakan di perpustakaan kepada siswa/i. Sebelum memasuki perpustakaan, mereka diminta mengisi daftar kunjungan harian yang telah diberi tanggal setidaknya dari bulan lalu hingga sehari sebelum jadwal kedatangan tim asesor. Kesibukan siswa/i di perpustakaan kemudian juga didokumentasikan untuk mengesankan bahwa perpustakaan bersangkutan memang telah lazim dimanfaatkan sebagai salah satu sumber belajar. Menyedihkan memang, tapi ini sama sekali bukan isapan jempol. Lanjutkan membaca....


REKOMENDASI UNTUK ANDA

Comments

UPDATE VIDEO TERBARU

FACEBOOK